November 25, 2022
Pekerja migran yang mengalami pungli di Qatar

Pekerja migran yang mengalami pungli di Qatar

FIFA dan Qatar selaku penyelenggaran ajang Piala Dunia 2022 mendapat sorotan dari organisasi HAM dunia karena pungutan liar.

Para pekerja migran yang direkrut dari luar Qatar untuk mengerjakan proyek Piala Dunia menjelaskan, merek dipungut biaya yang cukup besar agar bisa bekerja di sana. Bagi yang tidak mampu, diberikan pinjaman dengan bunga tinggi. Baik FIFA selaku organisasi induk maupun Qatar, belum memberikan konfirmasi atas berita ini.

Kondisi ini tidak hanya dialami segelintir pekerja, tercatat ada ribuan keluarga dari pekerja migran yang terjerat hutang setelah anggota keluarganya meninggal, bahkan ada pula yang masih belum dibayar gajinya.

Organisasi HAM dunia mewawancara lebih dari 45 pekerja migran antara bulan November 2021 hingga Oktober 2022 yang berasal dari India, Kenya, Bangladesh dan Nepal. Disamping itu, mereka juga mewawancarai keluarga pekerja migran yang telah meninggal dan juga kontraktor yang menjalani proyek di sana.

Sebagian besar dari pekerja itu mengakui, mereka dikenakan biaya rekrutmen yang tinggi disertai bunga pinjaman tinggi jika mau berutang dulu. Sebagian menjual aset dan menggunakan tabungan mereka untuk menutupinya. Kondisi ini semakin menyulitkan pekerja untuk berpindah kerja mengingat hutangnya masih menumpuk.

Sebenarnya Qatar tidak pernah mengijinkan adanya pungli ini, akan tetapi kejadian ini terus berulang. Banyak pihak menilai, pemerintah Qatar tidak sungguh-sungguh menindak pelakunya.

Sebut saja Sahani, ayah dari seorang pekerja migran dari Nepal yang meninggal pada 2022 di Qatar. Ia mengungkapkan, anaknya ke Qatar setelah meminjam uang sekitar 17 juta rupiah yang dikumpulkan dari beberapa tetangganya di desa. Kini semua orang menanyakannya. Mereka mengatakan, “saya harus mendapatkan kompensasi atas meninggalnya anak saya di sana. Kenyataannya, tidak ada uang satu rupee pun yang diberikan, saya bahkan tidak punya tanah di Nepal sehingga tidak ada yang bisa digadaikan untuk melunasi hutang anakku.”

Organisasi HAM dunia pun sudah menghimbau FIFA untuk menyelesaikan masalah ini dengan mengemukakan tagar #PayUpFifa, sejauh ini baru tujuh asosiasi yang mendukung rencana tersebut.

Dengan sisa waktu kurang dari satu bulan, akan kecil kemungkinan FIFA dan Qatar fokus menyelesaikan masalah ini.